Senin, 30 Agustus 2010

SPIRIT KITA

AWALNYA DARI PIKIRAN

Sebenarnya kita mempunyai pengetahuan dan kemampuan secara rohaniah/batiniah sebagai bekal untuk menghadapi bebagai tantangan dalam menjalani kehidupan.

Namun kemampuan yang ada dalam diri kta ini tidak pernah digali dan dikembangkannya. Akibatnya, bilamana kita mendapatkan kesulitan, kecemasan dan kegelisahan dibiarkan mendera diri kita sendiri sampai akhirnya menyebabkan pikiran kita sakit dan stress.

Bilamana “pikiran” kita dalam keadaan tenang, kemampuan dan potensi yang ada di dalam diri kita ini sebenarnya dapat difungsikan.

Memerdekakan “pikiran” adalah salah satu perjalanan untuk membersihkan masalah-masalah yang ada di dalam “pikiran” kita.

Diri kita sering dipermainkan oleh “pikiran” kita sendiri. Pikiran kita secara liar bermain kesana-kemari membuat rencana-rencana, membuat cita-cita, membuat mimpi-mimpi, yang semuanya itu hanyalah angan-angan yang belum tentu dapat dicapai. Malah angan-angan tersebut sangat mengganggu pada “pikiran” kita sendiri.

Pikiran sangat penting bagi gerak-hidup jasmani, karena pikiranlah yang menggerakan jasmani kita; namun, "pikiran" ini harus dapat kita kendalikan dengan baik. Jika "pikiran" ini dibiarkan bebas (liar), maka “pikiran” ini akan bermain kesana-kemari tanpa terkendali. Pikiran adalah wadah dari semua masalah-masalah pada saat ini, atau masalah-masalah pada masa lalu yang terjadi dan terekam oleh otak.

Fungsi "pikiran" manusia sebagai wadah masalah sangatlah terbatas kapasitasnya; maka, untuk dapat memfungsikan “pikiran” sesuai dengan kapasitasnya, "pikiran" tersebut jangan terlalu banyak menyimpan masalah-masalah.

Dengan jalan “memerdekakan pikiran” (menenangkan pikiran) kita dapat memfungsikan “pikiran” dengan baik dan bermoral. Bekerjasamalah antara “rohani” dan “jasmani” dalam mengendalikan "pikiran". Dan bilamana “rohani” dan “jasmani” dapat bekerjasama dengan baik, maka "pikiran" kita tidak akan terganggu oleh hal-hal yang negatif.

" Diri kita bukan korban dari pikiran, pendapat, atau keyakinan negatif; baik dari diri sendiri maupun dari kesadaran orang lain. Kita hidup dengan pemikiran yang benar milik kita sendiri. "



“ Hidup di dunia ini pada saat ini, bukan kemarin, dan bukan esok-lusa. Berbuatlah dan bekerjalah untuk saat ini, karena hidup itu saat ini. Yang lalu biarlah berlalu, yang akan datang biarlah menunggu. Hidup kita itu benar-benar bukan dibangun oleh lamunan dan angan-angan, tetapi dibangun oleh bekerja dan bekerja. “



" Kita mencintai Tuhan dan dicintai Tuhan. Kita adalah faktor positif dalam kehidupan. Pengalaman kemarin dan harapan masa depan adalah merupakan realitas. Kita dalam kehidupan yang baru. batin yang baru, dan pikiran yang baru."

sumber http//:kecerdasan spiritual.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar